Mungkin aku bisa bilang kalo 'today was a fairytale' untuk kedua kalinya.
Hari ini aku bercengkrama dengan seseorang itu yang menunggu ombak datang. Dia suka ombak. Sedangkan aku suka ubi. Aku wanita yang berlemak pecinta ubi. Dan aku mencintai seorang lelaki itu. Dia mungkin juga cinta dengan ubi. Ubi yang manis, ubi madu. Aku juga suka itu. Dia selalu merasakan angin ditepi pantai dan menunggu ombak kecil menghempas telapak kakinya. "Aku suka ombak itu" katanya. "Aku suka ubi madu" aku bilang. Dia cinta pantai. "Apa kamu belum kapok juga menginjak bulu babi itu?" "Tidak jika aku masih ada yang peduli seperti kamu" katanya. "Kamu mau ubi madu? Rasanya lezat, mungkin kamu akan mencintainya seperti mencintai pantai dan ombakmu." Melirik penuh arti sorot bola matanya melihatku. Dia tersenyum manis. "Apa ubi madu manis? Apa ubi madu semanis wajahmu?" Aku terkejut, mungkin wajahku akan memerah seperti tomat. Hujan semalam seputih salju melihat hati yang berbunga. Sudut hatinya seakan menyuruhku untuk masuk. Itu yang aku rasakan. Ubi madu selalu lezat dan manis bagiku. Bukan karna rangkaian kata yang terlontarkan dari mulutnya yang manis saat aku memakan ubi madu. Hempasan ombak memang indah. Aku juga suka itu. Bukan karna dia mencintai ombak. Tapi, aku memang suka ombak.
Saat ubi madu disantap dengan merasakan hempasan ombak memang menyenangkan apalagi aku santap berdua dengannya. Aku tak peduli. Ombak itu seorang itu yang aku suka. Mungkin aku akan merasakan rajutan kasih. Mungkin. Aku kubuat dia mencintai ubi madu sepertiku.
Semoga kita masih bersama. Itu yang aku harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar