Selasa, 23 Juli 2013

Aku hanya Pelayan

Disana ada seorang lelaki bertubuh besar dengan senyum manis yang sedang menunggu daging potong yang diantar oleh pria tua. Lekaki itu selalu terlihat bijak. Sungguh. Aku sendiri hanya seorang pelayan toko disudut kota kecil. Hampir setiap hari aku melihatnya. Dia membawa cincin emas hari ini. Mungkin dia akan ikut sayembara dan melamar seorang putri, sedangkan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Terkadang aku merasa hal yang berbeda saat dia menatap aku dan tersenyum. "Haha dasar bodoh. Dia tidak akan menyukaiku". Ya begitulah.
Setelah mendapat daging potong lelaki itu mulai berjalan dan dia menjatuhkan cincin emasnya. Segera ku ambil cincin itu dan kukembalikan padanya, "Tuan ini milik tuan bukan? Tadi terjatuh dekat meja" dan dia menatapku "terimakasih, cincin ini titipan dari seorang pangeran sana"
Terkejut aku mendengarnya, ternyata bukan miliknya.
Hatiku berbunga dan kami sempat bertatapan. Matanya hitam berkilau.
Seribu jalan menuju gang hatinya. Aku masih terus berjalan sampai mata hatinya melihatku. Ya.. sampai mata hatinya melihatku. Aku hanyalah seorang pelayan yang sedang menganggumi seorang pria yang mungkin tidak sederajat denganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar