Kamis, 14 Maret 2013

Dia kembali, ibu peri

"IBU PERIIIIII! DIA KEMBALI, BU. DIA KEMBALI." Ibu peri datang setelah beberapa lama shopping dengan 'kawan baru' yang kampungan itu. "My Gosh! kamu kenapa? biasa aja gimana si?". Wajah ibu peri sudah dipoles dengan make up anti badai bak milik syahrini. Itu geli. "Bu, kamu lahir dibawah pohon sukun rumahku, jangan kebarat-baratan. kenapa wajahmu mirip jamban begitu?" "mirip jamban gimana? cantik bukan?" "kalo aku bilang cantik, apa yang ingin kamu beri? nanti kepalamu besar. mirip squidward." Ibu peri sibuk dengan belanjaannya itu duduk di beranda rumah dan minum teh hangat. Please, kenapa?, mm.. enggak, takut kamu marah lagi nanti. yasudah. Jawabnya sengak. Kampret.
"Kamu selama aku pergi ada waktu untuk berdua?" "Kenapa ibu bilang begitu? Ibu saja jomblo aku biasa saja." "Dasar kakung." "Aku masih muda, kenapa ibu masih bertanya?" "Siapa tau tidak." "Terserah bu." "dasar bocah".
Aku hampir lupa bercerita. "tadi mau bilang apa bocah kakung?" "jangan sebut aku dengan sebutan itu." "terserah" "bu, dia kembali lagi. mengirim surat dengan amplop merah dan memberi pemanis di cangkir kopiku semalam. Seketika aku terngiang dengan hal lampau lalu. bagaimana bu? apa ini keren?" "Oh si tinggi jangkung itu? bukan kah dia memakan coklat batangan di dekat perapian sana? saat kamu bermain pianomu itu" "ya benar. ibu tau" "poor." "jangan kebaratan. suaramu medhok bu. lahir dibawah pohon sukun saja belagu. bagaimanaaa?" "kita beli coklat yang banyak, masukkan kedalam mulutnya. dia pasti suka." "jangan bohong. dia suka aku, bukan coklat. jangan bodoh bu"
aku bercerita sampai nafasku habis. "kalo aku sih cuek?" dia bahkan tau bahasa twitter semenjak berteman dengan tante-tante peri yang wajahnya dilapisi make up tebalnya satu sentimeter. aku heran, wajahnya itu bukan kanvas kan?
"Yasudah lah bu. aku sih cuek juga"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar