"Kamu kenapa benci langit? Langit begitu indah bukan?"
Ibu peri makin ndeso bagiku. "aku lebih cinta pelangi dibanding langit. pelangi itu langka, bu." kataku dengan malas menjawab. Ibu peri nggak ngerti unyunya pelangi mungkin. tongkat kecilnya mana mampu membuat pelangi besar. bagiku dia norak.
" Btw.. sudah lama kamu nggak nelfon, kamu juga nggak dateng ke rumah. kamu kemana?"
"Bu, jangan sok kebarat-baratan. Aku sedang sibuk marah dengan si langit itu. lebih penting dibanding kamu, bu."
Ibu periku menggeram, ngoceh bak burung beo. Dia ngambek, karna:
1. Aku benci langit
2. Aku tidak menelfon
3. Aku tidak datang
4. Berharap pelangi yang entah datang atau tidak
5. Mengabaikannya
Dia berjalan pulang dengan tongkat bintangnya itu. "Bu!! Aku masih butuh kamu. call me maybe" kataku. "mintalah pada bulan, mungkin dia akan bantu. aku mau shopping dengan teman baruku. Bulan itu baik kan? betapa kerennya dia." jawabnya. "Bulan? dia lagi sibuk mengurusi organisasi di antariksa sana mungkin bu. yah.. mungkin. Yee.. dasar tinggi hati. teman lama ditinggal jangan lho bu" jawabku. "terserahlah" jawab si ibu norak itu dengan angkuhnya. dasar wanita.
Ibu peri masih shopping mungkin. bulan tak hadir, aku masih ditunjukkan dengan langit senja yang indah. "Kamu meledekku? kampret". Matahari mulai terbenam. "kamu terlihat dekil, langit. berhentilah. aku hanya ingin pelangiku!" bentakku. Bintang-bintang mulai muncul. Secangkir white coffee dan oreo disebelahku, tepatnya diatas meja. Aku memandangi bintang disana. "Ijinkan bulan datang lagi dong. kali ini minum kopi, atau mungkin makan sebatang coklat. boleh?" tanyaku pada bintang.
Hari ini mungkin jadi hari jahat untukku. Betapa mendesnya aku saat aku menangis tadi. aku nangis. karna cowok. ada. kampung ah, alay ah, mendes ah. "ada yang masih galau(titik) ada(titik)" aku kira kalo aku bilang begitu aku disangka kece. "Cause my heart breaks a little when I hear your name" itu tadi cuplikan dari lagunya si Bruno-When I Was Your Name. ngena banget. dan fakta. Ibu peri belum juga datang ke beranda rumah. Aku besok masih ujian tengah semester. tadi TPM juga nggak bisa mikir. "IBU PERIIIIIIII</3 shopping apa sih? ingat umur buuu. dimana kamuuuu?!"
Langit memberiku senja yang indah lagi. Aku masih berharap esok masih ada embun di daun tumbuhan sebelah jendela. bunga-bunga bermekaran. dan tentu aku berharap pelangiku itu ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar