Ibu peri barusan pulang dari "menjadi muda untuk sementara". katanya sih dia mau nyaingin Julia Perez pake baju yang keliatan UU nya gitu. warnanya merah. mmm dia diantar lelaki yang masih 'muda'.
"BUK! KAMU TU PERGI TERUS. TIDAK INGATKAH PADA KEWAJIBANMU?!" omelku pada ibuk peri. mulai saat ini pake huruf K biar dia inget kalo lahirnya dibawah pohon sukun, maguwo, Java.
"I'm sorry, kangkungku. aku nggak bisa tahan nafsu main bersamanya." "Oh jadi kamu udah nggak jomblo? liat aja besok dia juga move on. kamu ditakdirkan untuk jomblo, buk. jomblo." si ibuk itu melirik dengan sinisnya. "kampret, dasar kangkung bacem." pisuhnya.
"Oiya buk, dia rumahnya maguwo. jangan kaget. kali ini elok, rupawan lagi. lebih elok dari lelak mu, lebih elok dari lelaki yang tinggi jangkung itu, dan lebih elok dari personilnya super junior atau smash atau boyband2 itu. dia polos lho. nggak macem lelaki mu. dia juga pintar. jangan iri lho buk. jangan iri."
"OH JADI KAMU MAU PAMER?" katanya nggak santai. "yaahh kepo. nggak tau kan buk? makanya kalo aku ke taman kota ikutlah. biasanya aku cari dokko. terus tadi waktu arrived home aku liat dia. aku bilang HAI TAMPAN dengan wajah konyolku. apa itu keren? jangan iri lho" "dokko? males ah. apa lagi carinya sama kamu". Ibuk peri berasa paling berkuasa kali ya? padahal tingginya hanya 8 inchi. "buk. dokko sekarang lagi ber-glitter. jangan salah. Dia juga sering cari dokko katanya. aah pangeran." "jangan terlalu tinggi kalo terbang. ntar kalo tiba2 macet, jatuh, itu sakit lho." "Buk, sejak kapan kau jadi sok bijak begini? Iya juga sih buk. tapi sungguh, dia itu tampan." "ya makanya jangan terbang terlalu tinggi, nak. kamu itu mirip seperti seorang anak yang dulu aku asuh." "masa iya?" "iya, mirip sekali. aku mengasuh seorang anak totalnya 78120945708656 anak. dan kamu anak yang terakhir. mungkin" Ah si ibuk peri langsung bicara serius begitu. "Buk, aku lagi kasmaran, jangan diajak bicara tentang kematian. aku benci." "aku bukan mau mati, nak. jamban. aku bentar lagi pensiun dari dunia peri" "OH." "Dasar bocah, semoga si pemilik rumah maguwo sebelah sana mau bercengkrama dengan bocah kangkung sepertimu ya." "ha? sepertiku? berarti bukan aku? buk.. sakiiitt" "maksudku kamu, nak. hih"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar