Aku berada pada sebuah sore yang bergerak perlahan ke arah senja. Langit berbias warna jingga dengan semburat cahaya matahari yang mulai meredup. Ada angin yang bergerak perlahan, mengalirkan udara halus yang menyentuh segala sesuatu. Ketika menyentuh dedaunan, memunculkan suara gemerisik yang lembut. Ibarat bisikan seseorang yang membangunkanku dipagi hari. Ketika menyentuh tubuh, begitu ringan gerak angin itu. Ibarat hembusan nafas yang mengalir di relung telingaku.
Ingin aku selalu dekat seseorang itu, tak beranjak. Ingin aku melekatkan telinga pada dataran dada penutup bilik jantungnya, mencari deburan jantungnya yang berdetak.
Sore ini aku kembali melihat wajah cerah dari seseorang itu. Bagai mentari yang bersinar saat malam mulai tertidur. Ya, aku memetik senar gitarku dan mulai bernyanyi, nyanyian rintihan hati yang menuju hanya padanya. Cukup bagiku melihat seseorang itu tersenyum manis disetiap harinya.
Matahari kini mulai pergi menuju tidurnya. Kudapati senyum tipis yang dia berikan saat melihatku. Ah, tehku mulai datang. Dengan cangkirnya yang kecil tercium aroma teh yang semerbak. Saat aku mulai meminum tehku seakan tiada orang yang boleh menyicipi, bahkan meminum secangkir denganku. Aku tidak mau kehilangan tehku, seperti aku sesekali kehilangan debur jantung, dan wajah cerahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar