Rabu, 10 April 2013

Aku hanya ingin melebihimu, Tuan.

Besok-besok mau jadi pinter.
Kemarin, untuk membuat secangkir kopi saja malas. Tapi setelah aku pergi mengelilingi wilayahmu, aku akan sigap kok.
Besok-besok mau jadi anak pinter.
Aku bosan setiap kalo kok aku. Aku bosan selalu aku. Tapi aku sedih juga stak disitu. wilayahmu hampir aku kuasai loh.
Besok-besok mau jadi anak pinter.
Aku seorang pisces. Otakku otak ikan, amis pula. Tapi aku punya DHA, bikin pinter kan? coba saja kau santap aku.
Besok-besok mau jadi anak pinter.
Baru2 ini ucapanku mbelok-mbelok. Entahlah. Tapi aku mau berusaha biar nggak gagap waktu ngomong sama kamu.
Besok-besok mau jadi pinter.
Proses memenuhi wilayahmu itu sulit. Kenapa? aku gagal kali ini. Tapi kan aku sudah bisa 'mencoba' setidaknya bukan?
Besok-besok mau jadi pinter.
Fisikku sekarang udah nggak kayak dulu. Dulu aku kalo disuruh bersih-bersih mau. Apalagi sekarang kalo disuruh bersih-bersih di wilayahmu. Gajinya juga besar pasti. Tapi aku punya sesuatu yang nggak waras ternyata. kecewa.
Besok-besok mau jadi pinter.
Raja selalu bilang "bodoh". Apa yang salah? Apa aku salah disini? Culik aku, bawa aku ke wilayahmu, Tuan. Tapi kalo aku pergi, bagaimana dengan penyanyi itu?
Besok-besok mau jadi pinter.
Ibuk peri saja sampe judrek sama keadaanku. "kung, gek pinter to." Aku bingung. Dia selalu menyuruhku menggunakan otak. memangnya dia sendiri punya otak? Tapi dia selalu bijak kalo aku galau.
Besok-besok mau jadi pinter.
Inget ya, aku ini pisces. Pisces yang murah hati. Kurang baik apa coba? aku selalu nurut kalo disuruh mencoba. Tapi kenapa selalu salah? Ajari aku, Tuan.
Besok-besok mau jadi pinter.
Aku nggak pingin sekedar pinter. aku juga mau anteng. Ngalahin kamu antengnya. Tapi sayang, aku ini dikarakterkan untuk jadi imbisil. Yah semacam joker untuk raja, Tuan.
Besok-besok mau jadi pinter.
Aku kepikiran jadi seorang penulis karya sastra. Dan mungkin isi karyaku itu hanya untukmu, Tuan. Tapi sayang, bahasaku tak seindah Chairil Anwar. Bahasa saja aku belum menguasai yang pasti. Aku hanya berharap.
Besok-besok mau jadi pinter.
Aku bisa bermain piano. Tuanku ingin lagu apa? Akan ku mainkan, asal tidak bernyanyi. Suaraku tak sebagus Beyonce. Tapi Tuan, maaf permainanku masih amatiran.
Besok-besok mau jadi pinter.
Aku ini atlet. Atlet dansa. Kalau Tuan mau berdansa, mari aku ajak. Tapi sayang, Gerakanku belum sehebat atlet2 dansa di black pool. Kejuaraan provinsi saja masih dikedudukan 3 atau 4.
Besok-besok mau jadi pinter
Tuan, aku harap tuan masih mau membantuku mengerjakan ini. Tuan terkenal 'si baik' kan? Wilayahmu semakin jauh rupanya.
Besok-besok mau jadi pinter.
Aku harap aku lebih baik dari ini. Lihat saja Tuanku. Aku mau jadi pinter. Ngalahin kamu. Biar nanti gentian kamu yang berguru sama aku. Mau nanya hujan badai pasti aku jawab kalo itu darimu, Tuan.
Aku ingin mengalahkanmu, Tuanku. Dan aku ingin menguasai wilayahmu. Ingat aku ya kalo nanti wilayahmu semakin tak terlihat oleh mataku yang rabun ini. Aku, si penanya hujan. Akulah yang berharap. Aku lah yang ingin menjadi anak pinter. Ingat aku, Tuan.. Ingat aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar