Kamis, 25 April 2013

Ah.. Aku Merindukan Tuanku

Hai. Kamu apa kabar, Tuan? Apa matamu masih bersinar saat menatapku? Tuan, hari kemarin bukan yang terakhir kan? Pesan singkat yang aku tulis diatas daun pisang ini bukan yang terakhir kan?
Aku belum pernah mendengar dawaian gitarmu, kapan-kapan kalo bertemu coba petik ya. Nanti aku kolaborasikan dengan permainan amatirku.

Tuan, maaf ya aku masih sering bertanya hujan. Mungkin hubunganku denganmu ini komensalisme. Aku yang beruntung, dan kamu... (mungkin) biasa aja. Tuan, kapan kamu bertanya hujan kepadaku?
Tuan, apa kamu yakin atas ucapanmu ini? "Kalo ketemu nggak bakal sombong deh" Itu katamu.

Sepertinya wilayah itu makin makmur saja, dan tidak mungkin aku operasikan. Dan kamu ingin pindah ke dataran tinggi. Makin jauh saja... Tuan, di dataran rendah banyak yang jahat. sini saja dekat aku.. sekitarku baik lho...

Aku masih ingat betul saat kamu pergi ke taman kota dan 'kita' mencari dokko bersama, dan kamu mengajariku bagaimana cara menangkap dokko yang benar. Senang belajar denganmu, Tuan. Ibuk periku sedang cuti, aku sebenarnya ingin memperkenalkanmu dengannya. Yah sangat disayangkan saat kamu pergi, ibuk pun pergi. Aku ingat wajah gadis itu meminum teh dengan gayanya. "mbak ojo kemimut, biasa wae" Tapikan, nanti si elok yang marah.

Kamu masih ingat catatanku tentang 'si elok nan rupawan itu rumahnya maguwo sana' syukurlah kalau Tuan ingat. Dan saat itulah aku mulai cinta akan sinar indah matamu..
Ingat saja aku Tuan.
Kamu masih bisa mengingat, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar